Mengolah Kehadiran (Ways of Attending): Memanfaatkan Pembelajaran Berbasis Seni untuk Memahami Identitas Mahasiswa Pekerjaan Sosial

Dalam pendidikan pekerjaan sosial (social work education), pengembangan kesadaran diri (self-awareness) dan pemahaman reflektif terhadap identitas pribadi serta profesional merupakan pilar utama. Praktisi pekerjaan sosial dituntut tidak hanya menguasai keterampilan teknis-rasional, melainkan juga memiliki kepekaan kontekstual terhadap aspek ras, kelas sosial, gender, dan keberagaman budaya.

Studi terbaru dari M. Frampton et al. (2026) berjudul “Ways of attending: using arts-based learning to explore social work students’ identities” mengungkapkan bagaimana metode Arts-Based Learning (ABL) atau pembelajaran berbasis seni dapat digunakan sebagai pendekatan pedagogis untuk mengeksplorasi kompleksitas identitas mahasiswa pekerjaan sosial secara mendalam dan aman.

1. Tantangan Pedagogis dalam Pendidikan Pekerjaan Sosial

Pendidikan pekerjaan sosial konvensional sering kali didominasi oleh pendekatan teknis-rasional (technical-rational approach). Meskipun pendekatan ini penting untuk prosedur dan regulasi, ia memiliki keterbatasan dalam membantu mahasiswa memahami dimensi emosional, nilai personal, serta bias tersembunyi (implicit bias) yang dapat memengaruhi praktik lapangan.

Isu-isu seperti trauma, ketimpangan sosial, dan identitas sering kali sulit diungkapkan hanya melalui kata-kata atau diskusi verbal semata (intimidating/verbal constraints). Di sinilah metode pembelajaran reflektif yang nonsensitif dan eksploratif menjadi sangat dibutuhkan.

2. Seni sebagai Ruang Refleksi: Ways of Attending

Penelitian ini menerapkan kerangka kerja Ways of Attending untuk melihat bagaimana seni berfungsi sebagai media ekspresi dan refleksi. Melalui keterlibatan langsung dengan media artistik (seperti lukisan, kolase, instalasi visual, dan bentuk ekspresi non-verbal lainnya), mahasiswa diajak untuk:

  1. Mengamati dan Merasakan (Perceiving-Thinking Dispositions): Menggeser cara pandang dari sekadar analisis kognitif menuju keterlibatan emosional dan indrawi.

  2. Eksplorasi Identitas yang Dinamis (Fluid Identity): Menyadari bahwa identitas pribadi dan profesional tidak bersifat statis, melainkan terus berkembang (in flux) sesuai pengalaman dan interaksi sosial.

  3. Menciptakan Ruang Aman (Safe Medium): Seni memberikan ruang yang aman dan tidak mengintimidasi (less intimidating) bagi peserta untuk mengekspresikan emosi, kerentanan (vulnerability), serta refleksi diri yang sulit diungkapkan secara lisan.

3. Temuan Utama dan Dampak Kunci Studi

Berdasarkan analisis refleksi tertulis dan keterlibatan peserta pelatihan/kursus, penelitian ini menggarisbawahi beberapa dampak transformatif dari pembelajaran berbasis seni:

  • Penemuan Diri Tersembunyi (Uncovering Unconscious Insights): Banyak mahasiswa melaporkan bahwa proses berkesenian membantu mengungkap aspek identitas dan emosi yang sebelumnya belum disadari atau terpendam.

  • Perspektif Baru terhadap Keberagaman (Deconstruct & Reconstruct Diversity): Melalui karya visual, peserta mendapatkan pemahaman baru dalam memandang keberagaman manusia dan ketimpangan struktur sosial, sehingga membentuk sikap emosional yang lebih empatik dan inklusif.

  • Keseimbangan antara Rasionalitas dan Emosi: Studi ini menegaskan pandangan Jude (2018) bahwa pendekatan teknis-rasional harus diimbangi dengan metode yang menyentuh ranah afektif dan humanis.

  • Integrasi Profesionalisme: Pengalaman reflektif berbasis seni ini pada akhirnya membentuk identitas profesional yang lebih tanggap, responsif, serta adaptif terhadap kondisi klien di lapangan.

4. Implikasi bagi Pendidikan dan Praktik Sosial

Penggunaan pembelajaran berbasis seni (Arts-Based Learning) menawarkan kontribusi penting bagi kurikulum pekerjaan sosial:

  • Inovasi Kurikulum: Mengintegrasikan metode non-verbal dan ekspresif ke dalam mata kuliah refleksi diri, etika, dan keanekaragaman sosial.

  • Pencegahan Burnout & Healing: Menjadikan media seni sebagai sarana pemulihan emosional (healing) dan refleksi berkelanjutan bagi calon pekerja sosial yang kerap menghadapi tekanan tinggi di lapangan.

  • Pengembangan Emfatis: Mendorong praktisi untuk mendengarkan dan memahami pengalaman hidup orang lain secara lebih mendalam dan holistik.

Referensi :

Frampton, M., et al. (2026). Ways of attending: using arts-based learning to explore social work students’ identities. Social Work Education, 45(2), 1–19. DOI: 10.1080/02615479.2026.2744589.

Bagikan: WhatsApp Telegram X Facebook