
ACEH TAMIANG, 5 April 2026 — Lorong-lorong waktu di Pondok Pesantren Jamalul Arafah mungkin sempat diliputi sunyi dan lelah saat musibah itu datang menyapa. Namun, asa perlahan menemukan jalannya kembali. Kehangatan itu hadir melalui langkah kepedulian lembaga kemanusiaan asal Malaysia, Muslim Volunteer Malaysia (MVM), yang berkolaborasi bersama ASAR Humanity dan didukung oleh Endatoe Foundation sebagai mitra pelaksana di lapangan. Mereka datang membawa titipan cinta dari para dermawan: deretan Al-Qur’an baru untuk menghidupkan kembali denyut mengaji para santri.

Pesantren yang menjadi tempat bernaungnya mimpi-mimpi anak-anak penjaga ayat suci ini terletak di Dusun Rindu, Desa Pantai Cempa, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh. Sebuah nama dusun yang indah, namun sempat diuji dengan peristiwa yang mengoyak rasa aman mereka pada 27 November 2025 silam.

Saat banjir dahsyat dan arus bandang menerjang wilayah Kecamatan Bandar Pusaka, air bah datang menggulung tanpa memberi banyak ruang untuk menyelamatkan diri. Ketika air akhirnya surut, pemandangan pilu menyambut para santri dan pengurus pesantren. Bangunan Pondok Pesantren Jamalul Arafah berdiri kaku dengan timbunan lumpur tebal yang merendam setiap sudut ruang belajar.
Bukan hanya lumpur yang ditinggalkan air bah, tetapi juga sirna dan rusaknya ribuan lembar mushaf Al-Qur’an serta buku-buku agama yang selama ini menjadi teman setia hari-hari mereka. Terlebih lagi, situasi semakin pelik karena hantaman banjir sempat melumpuhkan sumber air bersih, membuat proses pembersihan dan kehidupan harian para santri di pesantren menjadi sebuah perjuangan yang begitu menguras tenaga serta air mata.
Namun, duka itu kini perlahan dibasuh oleh uluran tangan saudara seiman. Kehadiran Al-Qur’an baru dari Muslim Volunteer Malaysia (MVM) dan ASAR Humanity, yang disalurkan dengan penuh ketulusan oleh Endatoe Foundation, bukan sekadar memulihkan fasilitas belajar yang hilang. Lebih dari itu, bantuan ini adalah pelukan hangat bagi hati yang sempat cemas, sebuah pengingat bagi para santri di Dusun Rindu bahwa mereka tidak pernah sendiri dalam merajut kembali asa dan melanjutkan mimpi mulia mereka bersama Al-Qur’an.