Aceh dan Apa Yang Harus dilakukan Dalam Penanggulangan Bencana

Hampir 10 bulan yang lalu Aceh mengalami bencana hidrometeorologi yaitu banjir besar yang sangat dahsyat. Setelah diguyur hujan lebih dari 1 minggu, tepat pada tanggal 27 November 2025, banjir bandang menyelimuti hampir ⅔ dari seluruh daratan Aceh. Pesisir bagian utara Aceh dan Aceh bagian tengah menjadi wilayah dengan dampak paling parah, terutama di Kabupaten Aceh Tamiang.

Bencana hidrometeorologi adalah bencana yang dapat diprediksi karena faktornya adalah fenomena iklim, cuaca, curah hujan dan siklus air. Penyebab utama dari bencana ini adalah badai siklon. Badai siklon mengakibatkan hujan dengan intensitas tinggi dalam jangka waktu yang cukup lama, yaitu lebih dari 1 minggu. Air hujan yang biasanya dapat diserap oleh tanah, ditampung di kanal dan sungai, namun di debit air dari hujan yang turun saat itu jauh lebih besar daripada kemampuan tanah untuk menyerapnya dan sungai yang menampungnya. Hal ini terjadi karena perubahan topografi alam di Aceh akibat dari pembukaan lahan besar-besaran untuk perkebunan, penebangan hutan dan masih banyak lagi. 

Kondisi Jalan Aceh Utara Ke Bener Meriah Pada 20 Desember 2025.(Foto By Furqan Jamali)

 

Bencana ini memberikan dampak yang masif bagi warga Aceh. Ribuan rumah dan isinya rusak, korban jiwa, putusnya jembatan dan jalan penghubung, bahkan memakan banyak sekali korban jiwa. Bencana yang terjadi adalah langkah awal dalam mempersiapkan diri menghadapi bencana berikutnya, baik secara individu ataupun kolektif. Mempersiapkan diri menghadapi bencana dapat dikategorikan sebagai upaya penanggulangan bencana.

Dalam penanggulangan bencana, setidaknya ada 3 faktor yang harus diperhatikan yaitu Hazards (Bahaya), Vulnerability (Kerentanan) dan Preparedness (Kesiapsiagaan).

3 faktor ini berkaitan erat dengan keselamatan jiwa dan harta benda korban bencana. Faktor pertama adalah Hazards atau bahaya,  suatu fenomena alam yang berpotensi mengancam kehidupan manusia, kerugian harta benda dan kerusakan alam. Saat bencana Hidrometeorologi Aceh terjadi, kerugian yang terjadi sangat besar. Karena tidak hanya melihat dari jumlah korban jiwa, jumlah rumah hancur, kerusakan bangunan publik dan kerusakan alam yang masif, namun juga betapa luasnya wilayah yang terdampak dan taksiran kerugian ekonomi daerah tsb.

Relawan Endatoe Foundation Sedang Mengantar Logistik Untuk Masyarakat di Kecamatan Meusidah, Bener Meriah. (Foto By Furqan Jamali)

 

Faktor kedua adalah Vulnerability atau kerentanan. Hal ini merujuk kepada level kondisi masyarakat yang mengarah atau menyebabkan ketidakmampuan masyarakat dalam menghadapi bencana. Jika diuraikan, penjelasan dari kerentanan ini amatlah panjang karena bisa dimulai dari kerentanan fisik, sosial ekonomi hingga infrastruktur. Kerentanan ini bisa merujuk kepada kerapuhan warga dalam menghadapi Hazards atau bahaya. Jika tingkat suatu Hazards cukup tinggi namun Vulnerability masyarakat rendah, maka bisa jadi kerusakan dan kerugian yang terjadi tidak terlalu besar. Dalam kasus bencana hidrometeorologi Aceh dari kacamata penulis, Hazards dari bencana ini sangat tinggi dan level Vulnerability masyarakat ada di level menengah terutama kerentanan sosial ekonomi.

Faktor terakhir adalah Preparedness (Kesiapsiagaan) yang merujuk kepada tingkat kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana yang akan datang. Sebagai provinsi yang pernah terkena bencana yang besar lebih dari 20 tahun silam, Kesiapsiagaan masyarakat ada di level yang cukup waspada namun ini hanya di kelas menengah atas, di level kelas menengah bawah sulit rasanya mendapati masyarakat yang siap siaga menghadapi bencana. Preparedness ini juga upaya bentuk mitigasi bencana di level masayarakat ataupun individu, sehingga dapat menekan potensi resiko kerugian dan kerusakan pasca bencana

Jadi itulah 3 faktor yang harus diperhatikan dalam penanggulangan bencana. Dan ini harus menjadi langkah strategis dan dilakukan secara berkelanjutan mengingat Aceh menjadi salah satu area yang sangat rentan terhadap bencana.

 

Penulis adalah Ananda Fildza Alifa Relawan Aktif Endatoe Foundation

 

Bagikan: WhatsApp Telegram X Facebook