
BIREUEN, 16 OKTOBER 2026 — Endatoe Foundation melalui lini edukasinya, Endatoe Academy, kembali menggelar diskusi virtual dalam rangkaian Endatoe Talk: Webinar Future Technology bertajuk “Mengenal AI Orchestration: Cara Baru Mengendalikan AI di Atas Sekadar Prompting”. Kegiatan ini diselenggarakan pada Jumat (16/10) malam secara daring dan dipandu oleh Furqan Jamali.
Webinar ini menghadirkan narasumber muda bertalenta di bidang teknologi, Fauzul Azkia, seorang technopreneur asal Aceh sekaligus alumni Pendidikan Ekonomi Universitas Syiah Kuala. Fauzul merupakan founder FOID AI (foidai.app), platform berbasis AI untuk pengoptimalan layanan pelanggan UMKM, serta CTO Puleh Indonesia yang bergerak di bidang agritech berbasis limbah nilam. Ia juga meraih Juara 1 Pitching Competition Wirausaha Merdeka 2024 dan Juara 1 AI Talent Hub Indonesia 2025.
Mengapa Prompt Tunggal Sering Gagal?
Dalam pemaparannya, Fauzul mengawali dengan membedah kelemahan mendasar dari penggunaan prompting konvensional saat menangani tugas-tugas kompleks. Penggunaan satu perintah raksasa sering kali memicu tiga kendala utama:
-
Lost in the Middle: Kecenderungan AI yang sering mengabaikan detail informasi atau instruksi penting di bagian tengah dokumen/konteks panjang.
-
Langkah Menumpuk: Penumpukan instruksi simultaneously yang menyebabkan AI mengambil asumsi secara melompat dan menghasilkan respons yang generik.
-
Tanpa Titik Cek (Check Point): Ketidakadaan tahap verifikasi atau kendali sebelum hasil akhir diproduksi, sehingga meningkatkan risiko timbulnya halusinasi informasi.
“AI itu ibarat staf magang jenius yang gampang lupa. Model dasarnya bekerja memprediksi kata berikutnya tanpa benar-benar memahami tujuan bisnis kita. Oleh karena itu, tugas besar tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu instruksi tunggal, melainkan butuh sebuah blueprint atau arsitektur alur kerja (workflow),” jelas Fauzul.
Perjalanan Evolusi AI: Dari LLM ke AI Orchestration
Fauzul memetakan tahapan level perkembangan pemanfaatan AI untuk membantu peserta memahami posisi teknologi saat ini:
-
Level 1 (Basic LLM): Model kecerdasan buatan dasar yang hanya mengandalkan data latihannya.
-
Level 2 (RAG / Retrieval-Augmented Generation): Kemampuan AI menjawab dari sumber data eksternal yang ditarik, meski tetap berisiko keliru jika data sumbernya tidak tepat.
-
Level 3 (AI Agent): AI yang dilengkapi alat (tools) eksternal (seperti search, kode, atau API) dan dapat bertindak secara independen hingga tugas selesai.
-
Level 4 (Agentic Orchestration): Tingkat lanjut tempat berbagai AI Agent dengan peran spesifik bekerja secara terintegrasi dalam satu orkestrasi sistem untuk mencapai satu tujuan besar.
Perubahan paradigma ini menuntut pengguna untuk bertransformasi dari sekadar Pengguna Pasif (pencari prompt ajaib yang menganggap AI sebagai asisten serbabisa) menjadi seorang Arsitek Sistem, perancang urutan alur kerja yang mengarahkan tim spesialis agen AI serta bertindak sebagai validator utama.
Mengaplikasikan Framework I.D.A & Human-in-the-Loop
Untuk memudahkan peserta merancang sistem otomasi AI secara mandiri, Fauzul memperkenalkan Framework I.D.A:
-
I – Identifikasi: Memilih satu tugas rutin yang paling menyita waktu serta mendefinisikan dengan jelas input dan output yang diharapkan.
-
D – Dekonstruksi: Memecah proses kerja tersebut menjadi 3–5 tahapan kecil, lalu menandai setidaknya satu titik cek (check point) untuk pengawasan manusia.
-
A – Automasi: Menggunakan instruksi spesifik (narrow prompt) pada setiap tahap, mengalirkan hasil (output) tahap pertama sebagai input tahap berikutnya, dan mengintegrasikannya melalui platform no-code seperti Make atau Zapier.
Fauzul menegaskan pentingnya prinsip Human-in-the-Loop, yakni menempatkan keputusan manusia di antara proses analisis AI dan eksekusi akhir.
“Otomasi tanpa pengawasan hanya akan memperbanyak kesalahan secara cepat. Manusia memegang peran krusial dalam memberikan konteks, menjaga etika, memverifikasi kebenaran premis, serta menyetujui tindakan yang berisiko,” tegasnya.
Studi Kasus Nyata: Akademik hingga Operasional
Dalam sesi interaktif, peserta diajak menelaah dua studi kasus konkret. Pada studi kasus akademik, peserta diperlihatkan alur riset terstruktur: mulai dari pencarian dan peringkasan jurnal 5 tahun terakhir, pemetaan celah riset (research gap), titik verifikasi manual oleh peneliti (pengecekan DOI dan penetapan tesis), hingga penyusunan draf esai. Sementara pada studi kasus operasional, dipaparkan alur penanganan komplain pelanggan yang terintegrasi dengan data CRM dan SOP perusahaan sebelum mendapatkan persetujuan akhir dari Account Manager.
Endatoe Foundation menyampaikan bahwa materi yang dibawakan dalam Endatoe Talk kali ini memberikan wawasan baru yang sangat relevan bagi perkembangan literasi digital masyarakat.
“Melalui Endatoe Academy, Endatoe Foundation ingin memastikan generasi muda tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi mampu menjadi arsitek sistem yang dapat memanfaatkan kecerdasan buatan secara terstruktur, etis, dan efektif untuk memecahkan berbagai tantangan sosial maupun profesional,” ungkap Furqan dari Endatoe Foundation.
Program webinar ini turut didukung oleh BEM FIKOM Universitas Almuslim serta Pixelara Digital Academy sebagai bentuk kolaborasi strategis dalam memperkuat ekosistem digital berbasis komunitas.

