
BANDA ACEH, 6 OKTOBER 2026 – Menanggapi cuaca ekstrem dan potensi ancaman bencana alam yang kerap membayangi wilayah Provinsi Aceh, Endatoe Foundation melalui unit edukasinya, Endatoe Academy, menyelenggarakan webinar edukatif bertajuk Endatoe Talk Series pada Selasa malam (06/10/2026).
Kegiatan yang mengusung tema “Jurus Lengkap Mitigasi Bencana Aceh: Fisiknya Kuat, Kebijakannya Mantap, Warganya Siap!” tersebut digelar secara daring melalui platform Zoom Meeting dan diikuti oleh berbagai elemen masyarakat, khususnya pemuda-pemudi Aceh.
Penyelenggaraan kegiatan ini turut mendapat dukungan penuh dari berbagai mitra kolaborasi, yaitu Relawan Rumah Zakat Bireuen, Nusantara Giving Initiative, Global Meutuah Foundation, serta Seuramo Hijau Nusantara.
Webinar ini dipandu oleh Furqan selaku relawan Endatoe Foundation, dengan menghadirkan peneliti dari Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Universitas Syiah Kuala (USK), Muhammad Arifin, sebagai narasumber utama.
Pentingnya Pemahaman Risiko dan Siklus Penanggulangan Bencana
Dalam pemaparannya, Muhammad Arifin menjelaskan bahwa bencana merupakan peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam serta mengganggu kehidupan masyarakat. Bencana tidak hanya disebabkan oleh faktor alam, seperti gempa bumi, tsunami, banjir, dan tanah longsor, tetapi juga dapat dipicu oleh faktor nonalam (gagal teknologi dan wabah penyakit) serta faktor manusia.
Ia menekankan pentingnya memahami siklus penanggulangan bencana secara utuh dan berkelanjutan:
-
Fase Pra-Bencana: Berfokus pada upaya pencegahan, mitigasi, dan kesiapsiagaan sebelum bencana terjadi.
-
Fase Saat Bencana: Meliputi tindakan tanggap darurat guna meminimalkan korban jiwa dan dampak kerugian.
-
Fase Pasca-Bencana: Berfokus pada upaya pemulihan (recovery), rehabilitasi, dan rekonstruksi sosial-ekonomi masyarakat.
Penguatan Kapasitas Melalui Mitigasi Aksi Ganda
Lebih lanjut, Muhammad Arifin menguraikan konsep Pengurangan Risiko Bencana (PRB). Tingkat risiko bencana sangat dipengaruhi oleh besarnya ancaman (hazard) dan kerentanan (vulnerability), yang berbanding terbalik dengan kapasitas (capacity) yang dimiliki oleh masyarakat dan daerah. Untuk menekan risiko tersebut, kapasitas masyarakat perlu ditingkatkan melalui dua jalur mitigasi:
-
Mitigasi Struktural: Mengurangi risiko melalui pembangunan fisik dan pemanfaatan teknologi, seperti penerapan standar bangunan tahan gempa, penyediaan jalur evakuasi yang jelas, dan penguatan sistem peringatan dini (early warning system).
-
Mitigasi Non-Struktural: Mengurangi risiko melalui jalur edukasi, regulasi, dan kebijakan, antara lain pelaksanaan simulasi bencana berkala, sosialisasi kesiapsiagaan, penyusunan tata ruang berbasis risiko bencana, serta penegakan regulasi tata bangunan.
Sinergi Kolaborasi Pentahelix
Di akhir pemaparannya, dipaparkan pula pentingnya kolaborasi model Pentahelix sesuai amanat UU No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Penanggulangan bencana yang efektif tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif dari lima sektor utama (Pemerintah, Akademisi/Pakar, Masyarakat/Komunitas, Dunia Usaha, dan Media Massa).
Melalui kerja sama dan kolaborasi erat bersama Relawan Rumah Zakat Bireuen, Nusantara Giving Initiative, Global Meutuah Foundation, dan Seuramo Hijau Nusantara, Endatoe Foundation berharap kesadaran serta kapasitas kesiapsiagaan kebencanaan di tengah masyarakat Aceh dapat terus ditingkatkan secara berkelanjutan.