Urgensi Sampah Plastik di Indonesia: Endatoe Foundation Ajak Anak Muda Ambil Peran

BANDA ACEH — Persoalan pengelolaan lingkungan, khususnya ancaman limbah plastik, menjadi sorotan utama dalam ruang diskusi daring Endatoe Talk bertajuk “Peran Generasi Muda dalam Pengelolaan Sampah Berkelanjutan” yang dihelat oleh Endatoe Foundation pada Senin, 29 Juni 2026. Webinar ini menghadirkan Ketua Gerakan Peduli Lingkungan Aceh Barat, Fajar Oza Pratama, untuk membakar semangat kaum muda agar lebih aktif mengatasi darurat sampah yang kian mengkhawatirkan.

Dalam sesinya, Fajar memaparkan data yang menunjukkan kurva peningkatan produksi sampah plastik di Indonesia yang terus merangkak naik dalam satu dekade terakhir. Tren ini membuktikan bahwa krisis sampah masih menjadi pekerjaan rumah besar yang menuntut kolaborasi lintas elemen bangsa.

“Mengutip data terbaru dari Katadata.com, pada 2017 terdapat sekitar 9,2 juta ton sampah plastik, sedangkan pada tahun 2025 meningkat menjadi 9,9 juta ton,” ungkap Fajar. Menurutnya, lonjakan angka tersebut harus dibaca sebagai alarm peringatan agar aksi pengurangan sampah digencarkan secara lebih masif dan berkelanjutan.

Ia menjelaskan bahwa limbah plastik merupakan salah satu musuh terbesar lingkungan karena karakternya yang sangat sulit terurai. Oleh karena itu, ia mendorong masyarakat, terkhusus generasi Z dan kaum milenial, untuk konsisten membiasakan diri menerapkan prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle dalam keseharian.

Sebagai bentuk aksi nyata, Gerakan Peduli Lingkungan Aceh Barat sendiri telah menggagas berbagai program edukatif di lapangan. Mulai dari sosialisasi, pelatihan teknis, hingga menyulap sampah plastik menjadi barang-barang bernilai ekonomi tinggi seperti tas, dompet, hingga kursi daur ulang yang kini telah dipasarkan secara luas melalui platform e-commerce.

“Di dunia yang serba digital, seharusnya teknologi menjadi salah satu senjata kita untuk melakukan perubahan. Minimal kita mampu mengelola sampah yang dihasilkan sendiri, membuat konten ajakan peduli sampah, hingga menggerakkan masyarakat secara personal maupun kelembagaan,” pesan Fajar penuh motivasi.

Ia juga menegaskan bahwa kehadiran dan energi anak muda sangat krusial dalam memutus rantai krisis lingkungan. “Masih perlu lebih banyak anak muda untuk hadir dalam permasalahan ini. Tanpa kita, siapa lagi?” tegasnya.

Sesi diskusi yang dipandu secara dinamis oleh Furqan Jamali selaku moderator turut mengeksplorasi berbagai solusi inovatif berbasis komunitas. Kolaborasi erat antara organisasi masyarakat dan generasi muda dinilai sebagai kunci utama dalam merajut masa depan bumi yang lebih bersih.

Menutup jalannya acara, Furqan menyimpulkan bahwa pemaparan yang diberikan tidak hanya memotret karut-marut persoalan sampah, tetapi juga menawarkan cetak biru solusi konkret. “Ini merupakan perbincangan yang lengkap karena ada masalah, ada ide, dan ada solusi dalam bentuk berbagai produk. Semoga semakin banyak pihak yang menduplikasi hal baik ini dan melahirkan inovasi positif lainnya,” tutup Furqan.

Bagikan: WhatsApp Telegram X Facebook