Endatoe Academy Latih Relawan Lokal Tangkap Momen Humanis Lewat Lensa

Bireuen, 16 Januari 2025 – Di tengah sibuknya denyut aktivitas pemulihan pascabencana yang masih menyisakan kelelahan, sebuah langkah edukatif dan inspiratif hadir di Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh. Endatoe Foundation melalui pilar programnya, Endatoe Academy, sukses menggelar pelatihan media khusus bagi para relawan kemanusiaan. Kegiatan yang sarat akan ilmu praktis ini dilaksanakan langsung di lokasi terdampak banjir, tepatnya di Desa Pante Baro Kumbang, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng.

Pelatihan ini diikuti dengan penuh antusias oleh 20 orang peserta yang terdiri dari relawan lokal dan aktivis kemanusiaan. Sesi pembelajaran kali ini terasa semakin spesial karena para peserta dilatih langsung oleh Furqan, seorang relawan aktif Endatoe Foundation yang telah berpengalaman luas dalam mendokumentasikan berbagai misi kemanusiaan di lapangan. Di tengah suasana posko dan sisa-sisa banjir, semangat belajar para peserta tidak surut sedikit pun demi mengasah kepekaan serta keterampilan visual mereka.

Endatoe Academy menyadari bahwa di era digital saat ini, kerja-kerja kemanusiaan tidak lagi cukup hanya dengan menyalurkan bantuan secara fisik. Dibutuhkan dokumentasi dan publikasi yang kuat untuk membangun transparansi, menggerakkan empati publik, serta merekam data lapangan secara akurat. Di bawah bimbingan langsung Furqan, para peserta dibekali dengan materi komprehensif seputar teknik pengambilan foto dan video di area terdampak bencana.

Fokus utama pelatihan ini dibagi ke dalam dua fungsi krusial. Pertama, teknik mendokumentasikan proses penyaluran program agar akuntabel dan dapat dipertanggungjawabkan kepada para donatur. Kedua, cara mengambil visual yang tepat untuk kebutuhan assessment (asesmen) kondisi darurat, sehingga tingkat kerusakan dan kebutuhan mendesak warga dapat dipetakan secara presisi oleh tim di pusat.

Selain aspek teknis dasar fotografi dan videografi, Furqan juga membagikan kiat-kiat khusus mengenai seni menangkap momen humanis. Bencana alam kerap meninggalkan duka, namun di baliknya selalu tersimpan cerita ketegaran, senyuman anak-anak di pengungsian, serta gelora gotong royong warga. Para relawan diajarkan cara mendekati para penyintas dengan empati tinggi guna merangkum cerita kemanusiaan yang menyentuh hati, tanpa mengabaikan privasi dan martabat korban.

Tidak berhenti pada proses pengambilan gambar, rangkaian pelatihan ini ditutup dengan sesi praktis tentang teknik dasar penyuntingan (editing). Peserta diajarkan cara merangkai potongan foto dan video singkat menjadi sebuah narasi visual yang kuat, padat, dan siap disebarluaskan melalui berbagai platform media sosial. Keterampilan ini sangat esensial agar informasi kondisi real-time di lokasi bencana dapat segera tersampaikan kepada publik luas secara cepat dan tepat.

Dalam sesinya, Furqan mengungkapkan bahwa pelatihan ini lahir dari kebutuhan nyata di lapangan. “Seorang relawan hari ini adalah mata dan telinga bagi dunia luar. Melalui Endatoe Academy, kami ingin membekali teman-teman relawan di Desa Pante Baro Kumbang agar mampu menceritakan kisah perjuangan warga secara etis, estetik, dan bermakna. Dokumentasi yang baik bukan sekadar arsip, melainkan jembatan yang menyambungkan tangan-tangan kebaikan para dermawan dengan saudara kita yang sedang diuji bencana,” tuturnya.

Kegiatan pelatihan media ini ditutup dengan sesi praktik lapangan, di mana para peserta langsung mencoba menerapkan ilmu baru yang didapat di sekitar desa. Dengan berakhirnya pelatihan ini, Endatoe Foundation berharap para relawan di Bireuen kini memiliki kapasitas yang semakin mumpuni. Bekal keterampilan ini diyakini tidak hanya akan meningkatkan kualitas pelaporan program kemanusiaan, tetapi juga mengabadikan ketulusan setiap aksi menjadi sejarah yang terus menginspirasi banyak orang untuk peduli.